Beranda > Fiqih > SHALAT MUSAFIR bag. 1

SHALAT MUSAFIR bag. 1

Kali ini saya akan membahasa tentang Shalat Musafir, ide untuk membahas ini dikarenakan saya dan kawan-kawan di kampus selalu di Jama‘ dan Qashar untuk shalat Zuhur dan ‘Ashar dikarenakan pulang-pergi bandung-jatinangor, untuk shalat Maghrib dan Isya biasanya tidak di Jama’ dan Qashar karena Maghrib biasanya sudah ada di rumah. Sebenarnya yang minta posting pembahasan ini ialah salah satu teman saya, maka dari itu saya posting pembahasan ini. Namun saya akan posting sebagian-sebagian secara continue.

Pengertian Shalat Musafir

Shalat Musafir artinya shalat bagi orang yang sedang melakukan safar (dalam perjalanan. Dalam hal ini mencakup beberapa pembahasan, yaitu jama’, qashar, shalat di atas kendaraan dan kedudukan shalat sunnat bagi musafir.

Makna Qashar dan Jama’

Qashar artinya ringkas, yaitu melakukan dua raka’at untuk shalat maktubat (yang diwajibkan) empat raka’at karena safar.

Jama’ artinya mengumpulkan; yaitu mengumpulkan dua shalat pada satu waktu, baik taqdim (mengerjakan shalat ‘Ashar pada waktu shalat Zhuhur) maupun ta’khir (mengerjakan shalat Zhuhur pada waktu shalat ‘Ashar), yang masing-masing shalat dengan iqamat; demikian pula Maghrib dengan ‘Isya`.

Asal Mula Disyari’atkannya Qashar Shalat

وإذا ضربتم فى الأرض فليس عليكم جناح أن تقصروا من الصلوة إن خفتم أن يفتنكم الّذين كفروا إنّ الكافرين كانوا لكم عدوّا مبينا

Dan bila kamu bepergian di bumi, maka tidak mengapa atas kamu untuk mengqashar shalat, jika takut, bahwa orang-orang kafir itu akan mengganggu kamu karena sesungguhnya orang-orang kafir itu musuh yang nyata bagi kamu”. (Q.S. an-Nisa : 101)

Menurut ayat di atas, pada mulanya meng-qashar shalat itu hanya disyari’atkan ketika dalam safar dan karena khawatir dari gangguan orang-orang kafir. Meng-qashar itu kemudian tetap diberlakukan walaupun dalam keadaan aman. Hal ini sepeti dijelaskan dalam sebuah hadits sebagai berikut:

قال أبو يعلى بن أمية: قلت لعمر بن الخطاب رضى الله عنه (فليس عليكم جناح أن تقصروا من الصلوة إن خفتم أن يفتنكم الذين كفروا) فقد امن الناس؟ قال عجبت ممّا عجبت منه فسألت رسول الله عن ذلك فقال: صدقة تصدق الله عليكم ماقبلوا صدقة.

Abu Ya’la Ibnu Umayah berkata, “saya pernah bertanya kepada ‘Umar ibnu al-Khatab tentang ayat ‘LAISA ‘ALAIKUM JUNAHUN … KAFARU. Sedangkan sekarang orang-orang telah aman?” ‘Umar menjawab, “akupun pernah kaget sebagaimana engkau kaget, lalu saya bertanya kepada Rasulullah Saw, mengenai hal itu. Beliau menjawab, “itu adalah shadaqah yang Allah bershadaqah dengannya atas kalian. Maka terimalah shadaqah-Nya” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan:

قال أبوحنظلة : سألت ابن عمر رضي الله عنهما عن صلاة السفر فقال : ركعتان. فقلت : فأين قوله تعالى : “إن خفتم أن يفتنكم الذين كفروا” فقال : سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم.

“Abu Hanzhalah berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu ‘Umar tentang shalat safar. Beliau menjawab. “Dua raka’at”. Aku bertanya lagi, “Bagaimana dengan firman Allah “IN KHIFTUM … KAFARU” sedangkan sekarang kami dalam keadaan aman?” Beliau menjawab, “Sunnah Rasulullah Saw”. (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah)

Dari dua hadits tersebut dapat kita pahami, bahwa hal tersebut adalah shadaqah dari Allah untuk kita dan juga sebagai Sunnah Rasulullah Saw. Allah telah meringankan bagi Musafir, kenapa kita tidak ambil saja shadaqah tersebut yang juga sebagai Sunnah Rasulullah Saw. Acap kali banyak yang tidak melakukan shalat tersebut entah apa yang dipikirkannya padahal Allah telah meringankannya.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: