Beranda > Sejarah > Resume Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab

Resume Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab

KONDISI ARAB PADA MASA ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ 11-13 H (632-634 M)

Abu Bakar namanya Abdullah ibnu Abi Quhafah at Tamimi. Di masa jahiliah bernama Abdul Ka’bah, Setelah memeluk Islam namanya diganti oleh Muhammad menjadi Abu Bakar. Ia digelari “Ash- Shiddiq” yang berarti “yang terpercaya” setelah ia menjadi orang pertama yang mengakui peristiwa Isra’ Mi’raj.

Abu Bakar ash-Shiddiq adalah khalifah pertama Islam setelah kematian Muhammad. Ia adalah salah seorang petinggi di kota Mekkah dari suku Quraisy. Ia juga adalah orang yang ditunjuk oleh Muhammmad untuk menemaninya hijrah ke Yatsrib, atau sekarang dikenal dengan kota Madinah. Ia dicatat sebagai salah satu Sahabat Muhammad yang paling setia dan terdepan melindungi para pemeluk Islam bahkan terhadap sukunya sendiri.

Lalu Umar ibnul Khatthab ialah putera dari Nufail al Quraisy, dari suku Bani Adi. Sebelum Islam suku Bani Adi ini terkenal sebagai suku yang terpandang mulia, megah, dan berkedudukan tinggi di kota Mekkah.

Di masa jahiliyah Umar bekerja sebagai seorang saudagar. Dia menjadi duta kaumnya di kala timbul peristiwa-peristiwa penting antara kaumnya dengan suku Arab lain. Sebelum Islam, begitu juga sesudahnya, Umar terkenal sebagai seorang yang pemberani, yang tidak mengenal takut dan gentar, dan mempunyai ketabahan dan kemauan yang keras, yang tiada mengenal bingung dan ragu.

Umar bin Khatthab adalah khalifah ke-2 dalam sejarah Islam di jazirah Arabiyah. Pengangkatan Umar bukan berdasarkan konsensus tetapi berdasarkan surat wasiat yang ditinggalkan oleh Abu Bakar. Hal ini tidak menimbulkan pertentangan berarti di kalangan umat islam saat itu, karena umat Muslim sangat mengenal Umar sebagai orang yang paling dekat dan paling setia membela ajaran Islam. Hanya segelintir kaum, yang kelak menjadi golongan Syi’ah, yang tetap berpendapat bahwa seharusnya Ali yang menjadi khalifah. Umar memerintah selama sepuluh tahun dari tahun 634 hingga 644 dan dapat menguasai sepertiga belahan dunia, bukan hanya wilayah jazirah arab saja bahkan sampai ke jazirah Eropa.

Ketika Muhammad sakit keras, Abu Bakar adalah orang yang ditunjuk olehnya untuk menggantikannya menjadi imam dalam shalat. Hal ini menurut sebagian besar ulama merupakan petunjuk dari Nabi Muhammad agar Abu Bakar diangkat menjadi penerus kepemimpinan Islam, sedangkan sebagian kecil kaum Muslim saat itu, yang kemudian membentuk aliansi politik Syiah, lebih merujuk kepada Ali bin Abi Thalib karena ia merupakan keluarga Nabi. Setelah sekian lama perdebatan akhirnya melalui keputusan bersama umat islam saat itu, Abu Bakar diangkat sebagai pemimpin pertama umat islam setelah wafatnya Muhammad. Abu Bakar memimpin selama dua tahun dari tahun 632 sejak kematian Muhammad hingga tahun 634 M. Selama dua tahun masa kepemimpinan Abu Bakar, masyarakat Arab di bawah Islam mengalami kemajuan pesat dalam bidang sosial, budaya dan penegakan hukum. Selama masa kepemimpinannya pula, Abu bakar berhasil memperluas daerah kekuasaan islam ke Persia, sebagian Jazirah Arab hingga menaklukkan sebagian daerah kekaisaran Bizantium. Abu Bakar meninggal saat berusia 61 tahun pada tahun 634 M akibat sakit yang dialaminya.

Abu Bakar menjadi khalifah hanya dua tahun. Pada tahun 634 M ia meninggal dunia. Masa sesingkat itu habis untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama tantangan yang disebabkan oleh suku-suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk lagi kepada pemerintah Madinah sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam. Mereka menganggap bahwa perjanjian yang dibuat dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam, dengan sendirinya batal setelah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam wafat. Karena itu mereka menentang Abu Bakar. Karena sikap keras kepala dan penentangan mereka yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan, Abu Bakar menyelesaikan persoalan ini dengan apa yang disebut Perang Riddah (perang melawan kemurtadan). Khalid ibn Al-Walid adalah panglima yang banyak berjasa dalam Perang Riddah ini.

Nampaknya, kekuasaan yang dijalankan pada masa Khalifah Abu Bakar, sebagaimana pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam, bersifat sentral; kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif terpusat di tangan khalifah. Selain menjalankan roda pemerintahan, Khalifah juga melaksanakan hukum yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Meskipun demikian, seperti juga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam, Abu Bakar selalu mengajak sahabat-sahabat besarnya bermusyawarah.

Setelah menyelesaikan urusan perang dalam negeri, barulah Abu Bakar mengirim kekuatan ke luar Arabia. Khalid ibn Walid dikirim ke Iraq dan dapat menguasai wilayah al-Hirah di tahun 634 M. Ke Syria dikirim ekspedisi di bawah pimpinan empat panglima yaitu Abu Ubaidah ibnul Jarrah, Amr ibnul ‘Ash, Yazid ibn Abi Sufyan dan Syurahbil. Sebelumnya pasukan dipimpin oleh Usamah ibn Zaid yang masih berusia 18 tahun. Untuk memperkuat tentara ini, Khalid ibn Walid diperintahkan meninggalkan Irak, dan melalui gurun pasir yang jarang dijalani, ia sampai ke Syria.

PERKEMBANGAN PADA MASA ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ

Setelah Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, beliau berpidato. Dalam pidatonya itu dijelaskan siasat pemerintahan yang akan beliau jalankan. Di bawah ini kita kutip beberapa prinsip-prinsip yang diucapkan dalam pidatonya itu, antara lain beliau berkata:

1. Tugas pertama yang dilaksanakan sebagai Khalifah,

Yaitu memerangi orang-orang murtad. Sepeninggal Rasulullah memang banyak kaum muslimin yang kembali ke agamanya semula. Karena Nabi Muhammad, pimpinan mereka sudah wafat, mereka merasa berhak berbuat sekehendak hati. Bahkan muncul orang-orang yang mengaku Nabi, antara lain, Musailamah Al-Kadzab, Thulaiha Al-Asadi, dan Al-Aswad Al-Ansi.

2. Permasalahan yang muncul pada masa khalifah Abu Bakar, antara lain:

  1. gerakan Nabi Palsu,
  2. gerakan Kaum Murtad,
  3. gerakan Kaum Munafik,
  4. munculnya Kaum yang enggan membayar zakat.

3. Jasa-jasa Abu Bakar Ash-Shidiq, antara lain:

        Memerangi Kemurtadan (Perang Ridda)

       Segera setelah suksesi Abu Bakar, beberapa masalah yang mengancam persatuan dan stabilitas komunitas dan negara Islam saat itu muncul. Beberapa suku Arab yang berasal dari Hijaz dan Nejed membangkang kepada khalifah baru dan sistem yang ada. Beberapa diantaranya menolak membayar zakat walaupun tidak menolak agama Islam secara utuh. Beberapa yang lain kembali memeluk agama dan tradisi lamanya yakni penyembahan berhala. Suku-suku tersebut mengklaim bahwa hanya memiliki komitmen dengan Nabi Muhammad Saw dan dengan kematiannya komitmennya tidak berlaku lagi. Berdasarkan hal ini Abu Bakar menyatakan perang terhadap mereka yang dikenal dengan nama perang Ridda. Untuk itu Abu Bakar mengirim 11 pasukan perang dengan 11 daerah tujuan. Antara lain, pasukan Khalid bin Walid ditugaskan menundukkan Thulaiha Al-Asadi, pasukan ‘Amer bin Ash ditugaskan di Qudhla’ah. Suwaid bin Muqrim ditugaskan ke Yaman dan Khalid bin Said ditugaskan ke Syam.

Dalam perang Ridda peperangan terbesar adalah memerangi “Ibnu Habib al-Hanafi” yang lebih dikenal dengan nama Musailamah Al-Kazab (Musailamah si pembohong), yang mengklaim dirinya sebagai nabi baru menggantikan Nabi Muhammad Saw. Musailamah kemudian dikalahkan pada pertempuran Akraba oleh Khalid bin Walid.

4. Ekspedisi ke utara

Setelah menstabilkan keadaan internal dan secara penuh menguasai Arab, Abu Bakar kemudian mengarahkan perhatiannya pada perluasan wilayah pemerintahan Islam. Pada tahun 633 M, Abu Bakar memerintahkan Khalid ibn Walid mengadakan kegiatan ekspansi ke wilayah-wilayah perbatasan Syria dan Persia. Khalid mengirimkan surat kepada Hurmuz, komandan pasukan tempur Persia, dengan tiga alternatif :

  1. ajaran memeluk agama islam,
  2. kewajiban membayar pajak,
  3. siap dalam peperangan.

Hurmuz memutuskan pilihannya pada alternatif yang ketiga, sehingga pecahlah peperangan antara pasukan muslim dengan pasukan Persia. Pertama kali perang terjadi di Hafir, 50 mil sebelah Utara Uballah, yang dikenal sebagai “perang rantai” karena pasukan Persia membuat barisan pertahanan dengan rantai-rantai besar yang mengikat mereka satu dengan lainnya. pasukan Persia menyerah sedang komandan mereka terbunuh dalam peperangan. setelah peperangan ini, terjadi sejumlah peperangan kecil, pasukan Persia pada akhirnya terdesak dan mereka terusir ke wilayah Mesopotamia. pasukan muslim juga berhasil mengepung dan menguasai wilayah Hira. Penguasa Kristen wilayah ini menyerahkan diri dan mengadakan perjanjian damai dengan pemerintah Islam, dengan kesediaan mereka membayar sejumlah pajak, yang dikenal sebagai jizyah. setelah berhasil dalam pengepungan kota Hira, Khalid beserta pasukannyamelanjutkan ekspansi ke wilayah Utara sampai pada wilayah Ambar, sebuah wilayah pesisir di tepi pantai Euphrat. Dari sini, pasukan Khalid mengadakan penaklukan wilayah “ Ainut tamr”. Pada masa Nabi Muhammad, Heraclius, penguasa imperium Romawi, menyambut delegasi yang dikirimkan oleh Nabi dengan penuh penghormatan, namun tidak lama kemudian ia menjadi musuh islam. Pada masa ini kaisar Romawi menggalang persekutuan dengan suku-suku badui, di sekitar wilayah perbatasan Syria, untuk melancarkan serangan terhadap islam. Abu Bakar menempuh upaya pengamanan wilayah tersebut dari rongrongan penguasa Romawi. selain itu salah seorang komandan Romawi telah membunuh utusan Nabi di Muth’ah. Untuk memberikan balasan kecurangan mereka tersebut, Abu Bakar melancarkan ekspedisi militer ke Syria. terlepas dari faktor dan latar belakang tersebut, kondisi obyektif wilayah Syria adalah sangat maju perekonomiannya dibandingkan dengan negeri Arabia lainnya. sejak zaman dahulu, negeri Arabia mayoritas bargantung pada Syria dengan menjalin hubungan perdagangan. Atas dasar pertimbangan ini maka upaya penaklukan Syria diharapkan akan sangat berarti bagi perkembangan islam di masa-masa mendatang.

5. Penulisan Al-Qur’an

Abu Bakar juga berperan dalam pelestarian teks-teks tertulis Al Qur’an. Dikatakan bahwa setelah kemenangan yang sangat sulit saat melawan Musailamah dalam perang Ridda, banyak penghafal Al Qur’an yang ikut tewas dalam pertempuran. Abu Bakar lantas meminta Umar bin Khattab untuk mengumpulkan koleksi dari Al Qur’an. Abu Bakar memproyekkan pengumpulan dan penulisan ayat Al-Qur’an dengan menunjuk Zaid bin Tsabit sebagai pelaksananya. Hal ini dilakukan karena hal sebagai berikut:

1. banyak sahabat yang hafal Al-Qur’an gugur dalam perang penumpasan orang-orang murtad.

2. ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis pada kulit-kulit kurma, batu-batu, dan kayu sudah banyak yang rusak sehingga perlu penyelamatan.

3. pembukuan Al-Qur’an ini mempunyai tujuan agar dapat dijadikan pedoman bagi umat Islam sepanjang masa.

Setelah lengkap koleksi ini, yang dikumpulkan dari para penghafal Al-Quran dan tulisan-tulisan yang terdapat pada media tulis seperti tulang, kulit dan lain sebagainya, oleh sebuah tim yang diketuai oleh shahabat Zaid bin Tsabit, kemudian disimpan oleh Hafsah, anak dari Umar dan juga istri dari Nabi Muhammad Saw. Kemudian pada masa pemerintahan Usman bin Affan koleksi ini menjadi dasar penulisan teks al Qur’an hingga yang dikenal hingga saat ini.

KONDISI ARAB PADA MASA UMAR BIN KHATTHAB 13-23 H (634-644 M)

Umar ibnul Khatthab ialah putera dari Nufail al Quraisy, dari suku Bani Adi. Sebelum Islam suku Bani Adi ini terkenal sebagai suku yang terpandang mulia, megah, dan berkedudukan tinggi.

Di masa jahiliah Umar bekerja sebagai seorang saudagar. Dia menjadi duta kaumnya di kala timbul peristiwa-peristiwa penting antara kaumnya dengan suku Arab lain. Sebelum Islam, begitu juga sesudahnya, Umar terkenal sebagai seorang yang pemberani, yang tidak mengenal takut dan gentar, dan mempunyai ketabahan dan kemauan yang keras, yang tiada mengenal bingung dan ragu.

Umar bin Khatthab adalah khalifah ke-2 dalam sejarah Islam. Pengangkatan Umar bukan berdasarkan konsensus tetapi berdasarkan surat wasiat yang ditinggalkan oleh Abu Bakar. Hal ini tidak menimbulkan pertentangan berarti di kalangan umat islam saat itu, karena umat Muslim sangat mengenal Umar sebagai orang yang paling dekat dan paling setia membela ajaran Islam. Hanya segelintir kaum, yang kelak menjadi golongan Syi’ah, yang tetap berpendapat bahwa seharusnya Ali yang menjadi khalifah. Umar memerintah selama sepuluh tahun dari tahun 634 hingga 644.

Ketika Abu Bakar sakit dan merasa ajalnya sudah dekat, ia bermusyawarah dengan para pemuka sahabat, kemudian mengangkat Umar bin Khatthab sebagai penggantinya dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam. Kebijaksanaan Abu Bakar tersebut ternyata diterima masyarakat yang segera secara beramai-ramai membaiat Umar. Umar menyebut dirinya Khalifah Rasulullah (pengganti dari Rasulullah). Ia juga memperkenalkan istilah Amir al-Mu’minin (petinggi orang-orang yang beriman).

Di zaman Umar gelombang ekspansi (perluasan daerah kekuasaan) pertama terjadi; ibu kota Syria, Damaskus, jatuh tahun 635 M dan setahun kemudian, setelah tentara Bizantium kalah di pertempuran Yarmuk, seluruh daerah Syria jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Dengan memakai Syria sebagai basis, ekspansi diteruskan ke Mesir di bawah pimpinan ‘Amr ibn ‘Ash dan ke Irak di bawah pimpinan Sa’ad ibn Abi Waqqash. Iskandariah (Alexandria, sekarang Istanbul), ibu kota Mesir, ditaklukkan tahun 641 M. Dengan demikian, Mesir jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Al-Qadisiyah, sebuah kota dekat Hirah di Iraq, jatuh pada tahun 637 M. Dari sana serangan dilanjutkan ke ibu kota Persia, al-Madain yang jatuh pada tahun itu juga. Pada tahun 641 M, Moshul dapat dikuasai. Dengan demikian, pada masa kepemimpinan Umar Radhiallahu ‘anhu, wilayah kekuasaan Islam sudah meliputi Jazirah Arabia, Palestina, Syria, sebagian besar wilayah Persia, dan Mesir.

Karena perluasan daerah terjadi dengan cepat, Umar segera mengatur administrasi negara dengan mencontoh administrasi yang sudah berkembang terutama di Persia. Administrasi pemerintahan diatur menjadi delapan wilayah propinsi: Makkah, Madinah, Syria, Jazirah Basrah, Kufah, Palestina, dan Mesir. Beberapa departemen yang dipandang perlu didirikan. Pada masanya mulai diatur dan ditertibkan sistem pembayaran gaji dan pajak tanah. Pengadilan didirikan dalam rangka memisahkan lembaga yudikatif dengan lembaga eksekutif. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban, jawatan kepolisian dibentuk. Demikian pula jawatan pekerjaan umum. Umar juga mendirikan Bait al-Mal, menempa mata uang, dan membuat tahun hijriah.

Umar memerintah selama sepuluh tahun (13-23 H/634-644 M). Masa jabatannya berakhir dengan kematian. Dia dibunuh oleh seorang Zoroastrianis, budak Fanatik dari Persia bernama Abu Lu’lu’ah. Untuk menentukan penggantinya, Umar tidak menempuh jalan yang dilakukan Abu Bakar. Dia menunjuk enam orang sahabat dan meminta kepada mereka untuk memilih salah seorang di antaranya menjadi khalifah. Enam orang tersebut adalah Usman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad ibn Abi Waqqash, Abdurrahman ibn ‘Auf. Setelah Umar wafat, tim ini bermusyawarah dan berhasil menunjuk Utsman sebagai khalifah, melalui proses yang agak ketat dengan Ali ibnu Abi Thalib.

Penaklukan Pada Masa Pemerintahan Umar Bin Khatthab

Setelah memangku jabatan kekhalifahannya, Umar melanjutkan kebijakan perang yang telah dimulai oleh Abu Bakar untuk menghadapi tentara Sasania maupun Bizantium baik di front timur (Persia), utara (Syam), maupun di barat (Mesir). Ada beberapa sebab ekspansi Umar bin Khatthab ke wilayah-wilayah tersebut diantaranya: Letak geografis Syam, Persia, Iraq maupun Mesir adalah wilayah perbatasan dengan pemerintahan Islam. Daerah Bizantium terletak sebelah barat laut Arab terdiri dari Syiria, Palestina, Yordania dan Mesir. Mereka sejak awal memiliki hubungan kurang harmonis dengan bangsa Arab. Antara lain duta Nabi dibunuh orang kristen di Syiria atas restu Raja Heraklitus. Pada saat itu sungai Nil dan Mesopotamia adalah lahan yang subur. Jika dibandingkan dengan keadaan Arab yang gersang dan tandus maka hal ini menarik keinginan para prajurit Islam untuk menguasai wilayah tersebut sebagai sentrum perjuangan di luar jazirah Arab. Selain itu Damaskus pada saat itu juga merupakan kota penting. Disini dijadikan kota dan jalur perdagangan internasional.

Umar melakukan reformasi dalam pemerintahan. Selama memimpin dalam kurun waktu 10 tahun, ia termasuk pemimpin yang berhasil terutama bagi kesejahteraan rakyat dan peraturan Islam yang semakin kokoh. Dalam pemerintahannya, ada majlis Syura’. Bagi Umar tanpa musyawarah, maka pemerintahan tidak akan jalan. Umar membentuk departemen dan membagi daerah kekuasaan Islam menjadi 8 provinsi. Setiap provinsi dikepalai oleh Wali dan setiap provinsi didirikan kantor Gubernur. Umar juga membentuk kepala distrik yang disebut ‘Amil. Pada masanya, setiap pejabat pemerintahan sebelum diambil sumpah terlebih dahulu di audit harta kekayaannya oleh tim yang telah dibentuk oleh Umar.

Kebijakan yang paling fenomenal adalah kebijakan ekonomi di Sawad. Umar mengeluarkan dekrit bahwa orang Arab termasuk tentara dilarang transaksi jual beli tanah diluar Arab. Hal ini memancing reaksi anggota Syura’, namun Umar membeli alasan yaitu kalau mutu tentara Arab menurun, produksi menurun, negara rugi 80% dari pendapatan dan rakyat akan kehilangan mata pencahariannya (sawah) menyebabkan mereka akan mudah berontak kepada negara. Sebaliknya sebelum Islam, tentara Sasania dan Romawi merampas tanah-tanah subur di daerah yang mereka kuasai dari tangan petani. Sebagai solusi, guna mangatasi gejolak keuangan, ia memberi gaji tetap tentara dan pensiun kepada seluruh shahabat Nabi.

Khalifah Umar menerapkan pajak perdagangan (bea cukai) yang bernama “Ushur” setelah ia mendapat laporan bahwa apabila pedagang Arab datang ke Bizantium ditarik pajak 10% dari barang yang dijual, maka melihat efek positifnya khalifah menerapkan sistem itu bagi para pedagang non muslim yang memasuki wilayah kekuasaan Islam. Sementara itu bagi Dzimmi yang berada di dalam negeri dikenakan sebesar 5% sedangkan bagi orang Islam membayar 2,5% dari harga barang dagangan.

Disebutkan bahwa Umar juga mengeluarkan beberapa kebijakan yang baru yang tidak terdapat pada periode sebelumnya, misalnya demi keamanan, menjaga kualitas tentang Arab, produksi panen yang memadai, menghindari negara dari kerugian pajak 80%, keadilan, menghindari diskriminasi Arab dan non Arab, khalifah melarang transaksi jual beli tanah bagi Arab diluar Arab. Al-Maal Ghanimah selama ini diberikan kepada kepala negara 20% dan tentara 80%, tentara diberi gaji bulanan.

Wilayah pertama yang berhasil ditaklukkan adalah Damaskus pada tahun 635 M, dan Yerusalem pada tahun 637 M. dipimpin oleh panglima Khalid bin Walid pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab.

Pada saat menyerahnya Damaskus ke tangan Islam, penduduk dijamin keamanannya (harta, nyawa, bahkan gereja) dengan syarat mereka mau membayar upeti atau jizyah.

Serangan balik Heraklius sempat membuat kaum muslimin mundur dari Yerusalem dan Damaskus, tetapi hanya sebentar saja karena pasukan Romawi berhasil dihancurkan pada pertempuran Yarmuk (636 M.). Akhirnya kedua wilayah ini berhasil direbut kembali pada tahun 640 M. yang sekaligus menandai selesainya penaklukan di Suriah secara total.

Khalifah Umar membagi Suriah menjadi 4 distrik besar yaitu Damaskus, Hims, Yordania, dan Palestina (kemudian ditambah lagi distrik Kinnasrin). Ia juga memerintahkan kepada seluruh tentara Islam agar tetap tinggal dalam barak-barak militer, sehingga kehidupan masyarakat lokal tidak terganggu dan tetap berjalan seperti biasa.

Banyak suku-suku arab yang sudah lama menetap di Suriah akhirnya beralih ke Islam dan juga suku Ghassan. Khalifah juga menerapkan toleransi beragama sehingga memberi citra positif bagi pemeluk agama Kristen Nestorian, Kristen Yacobite dan Yahudi dimana pada masa kekuasaan Romawi mereka dianiaya. Hal inilah yang dianggap sebagai hal terpenting dari suksesnya pemerintah Islam menata wilayah mereka disamping pemerintah juga menghindari pemungutan jizyah secara berlebihan apalagi disertai pemaksaan. Zakat dikenakan kepada petani hanya sesuai dengan hasil panennya, jizyah diambil dari penduduk yang masih kafir sebagai imbalan atas jaminan perlindungan pemerintah dan pembebasan dari wajib militer.

Khalifah Umar juga membuat zona penyangga diseluruh jazirah arab (tempat lahirnya Islam), dan setelah Suriah yang terletak di barat jatuh ke tangan kaum muslimin, pasukan Islam bisa memfokuskan arah ke wilayah timur untuk menaklukkan Kekaisaran Sassania Persia. Setelah Persia juga jatuh ke tangan kaum muslimin mereka kemudian memfokuskan kembali ke provinsi Bizantium, Aegiptus.

Prinsip-Prinsip Peradilan Yang Dipakai Oleh Khalifah Umar bin Khatthab

Umar bin Khattab mengirim surat kepada Abu Musa Al-Asy’ari (hakim Kufah) yang isinya mengandung pokok-pokok atau prinsip-prinsip berperkara di persidangan dalam lingkungan peradilan. Isi surat tersebut adalah: Pertama, memutuskan perkara di pengadilan adalah kewajiban yang harus dikokohkan dan sunah yang harus diikuti. Kedua, sebelum sebuah perkara diputuskan, ia harus dipahami terlebih dahulu agar (hakim) dapat bertindak adil. Sesungguhnya berbicara keadilan tanpa ditegakkan, tidaklah bermanfaat. Ketiga, pihak-pihak yang berperkara harus diperlakukan sama, baik dalam persidangan maupun dalam menetapkan keputusan, sehingga pejabat tidak mengharap menang (karena ketidak adilan peradilan) dan orang-orang lemah tidak putus asa dalam memperjuangkan keadilan. Keempat, alat bukti dibebankan kepada penggugat, sedangkan sumpah dibebankan kepada pihak tergugat. Kelima, damai –sebagai jalan keluar dari persengketaan- dibolehkan selama tidak menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Kelima, berilah waktu kepada penggugat untuk mengumpulkan alat-alat bukti; dan persengketaan diputuskan harus berdasarkan alat-alat bukti. Keenam, hakim harus berani mengakui kesalahan apabila ternyata dalam keputusannya terdapat kekeliruan (prinsip peninjauan kembali). Ketujuh, kesaksian seorang muslim dapat diterima kecuali muslim yang pernah memberikan kesaksian palsu, pernah dijatuhi hukuman had, atau yang asal-usulnya diragukan. Kedelapan, seorang hakim dibenarkan melakukan analogi (qiyas) dalam memutuskan perkara apabila perkara yang hendak diselesaikan tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah; dan Kedelapan, dalam proses menyelesaikan dan memutuskan perkara, hakim tidak boleh dalam keadaan marah, berpikiran kacau (goyah), jemu, bersikap keras, dan hendaklah memutuskan perkara dilakukan dengan ikhlas hati dan berharap pahala dari Allah SWT.

Surat Umar yang berisi tentang prinsip-prinsip peradilan merupakan kebudayaan tinggi (peradaban), salah satu alasannya karena prinsip itu masih dipergunakan hingga sekarang meskipun setelah dilakukan beberapa perubahan atau modifikasi. Gagasan Umar mengenai prinsip peradilan dapat dijadikan dasar untuk menjadikan Umar sebagai “Bapak Peradilan”.

 

Syahidnya Khalifah Umar

Khalifah Umar mati shahid akibat sebuah kospirasi yang dirancang oleh musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi dan Persia yang sangat membencinya. Karena Umarlah yang menyebabkan lenyapnya kekuasaan dan pemerintahan mereka.

Dia meninggal akibat tusukan yang dialaminya pada saat dia sedang melakukan shalat subuh. Tusukan itu dilakukan oleh Abu Lu’luah Al-Majusi, seorang mantan budak Persia. Umar ditusuk dengan belati beracun.

Sebelum meninggal, dia memilih enam sahabatnya yang mendapat kabar gembira dari Rasulullah bahwa mereka akan masuk surga, Umar berwasiat kepada enam orang ini untuk memilih salah seorang diantara mereka untuk menjadi khalifah. Kemudian tim ini bermusyawarah dan berhasil menunjuk Utsman sabagai khalifah melalui persaingan ketat dengan Ali bin Abi Thalib. Umar wafat pada bulan Dzulhijjah 23 H/643 M dan memerintah selama sepuluh tahun.

Hasil Kerjanya Khalifah Umar

Hasil kerjanya saat beliau menjabat menjadi khalifah adalah sebagai berikut :

  1. Khalifah Umar adalah khalifah pertama yang menggelari dirinya sebagai Amirul Mu’minin.
  2. Dia adalah orang pertama yang membentuk kantor kementrian. Ada kantor tentara, kantor distribusi, pengiriman surat melalui kurir dan membuat mata uang.
  3. Dia adalah orang pertama yang membuat penanggalan Islam dengan menjadikan awal hijrah Rasulullah sebagai  awalnya.
  4. Umar melakukan perluasan Masjidil Haram.
  5. Umar membentuk departemen dan membagi daerah kekuasaan Islam menjadi 8 provinsi.
  6. Umar juga membentuk kepala distrik yang disebut ‘Amil.

                                                Simpulan Pada Masa Umar

Umar bin Khattab merupakan khalifah kedua setelah Abu bakar, Umar menjadi khalifah yang ditunjuk langsung oleh Abu Bakar. Pada masa pemerintahan beliau, banyak wilayah-wilayah yang telah ditaklukan Islam, misalnya dikawasan barat, Islam berhasil menaklukan Damaskus, wilayah pantai Syam, Mesir, Libya. Sedangkan dikawasan sebelah timur, Islam telah menaklukan Madain, Jalawla’, Nahawand dan ke berbagai wilayah Persia. Gagasan Umar mengenai prinsip peradilan dapat dijadikan dasar untuk menjadikan Umar sebagai “Bapak Peradilan”. Khalifah Umar telah memerintah selama 10 tahun lebih 6 bulan, dan hari kematiannya sangat tragis, Abu Lu’luah secara tiba-tiba menyerangnya dengan tikaman pisau tajam ke arah Umar yang sedang melaksanakan shalat subuh.

PERKEMBANGAN-PERKEMBANGAN DI ARAB PADA MASA ABU BAKAR DAN UMAR BIN KHATTHAB

 

Perkembangan Dakwah

Setelah Rasulullah wafat, tampuk pimpinan umat islam dipegang oleh khalifah yang empat (Abu Bakar, Umar bin Khatthab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib).

Dakwah islam pada masa Khulafaur Rasyidin yaitu meneruskan apa yang telah diperjuangkan oleh Rasulullah. Dakwah Islam disampaikan atau ditujukkan bukan saja kepada kaum muslimin, tapi juga dakwah disampaikan pada kaum musyrikin.

Dakwah terus disampaikan kepada kaum muslimin, baik yang ada di tanah Arab maupun diluar Arab. Dakwah ini dimaksudkan agar kaum muslimin makin bertambah keimanananya kepada Allah dan Rasulnya. Hal ini juga dilakukan oleh para Khalifah, karena banyak kaum muslimin yang mengingkari agamanya setelah wafatnya Rasulullah, misalnya saja yang dialami oleh Khalifah Abu Bakar, pada masa kepemimpinan beliau, banyak umat islam yang murtad.

Dakwah Islam juga disampaikan pada kaum musyrikin baik kaum musyrikin yang terdapat di wilayah Arab maupun yang baru di bebaskan atau dikuasai oleh orang-orang Islam dakwah ini ditujukan agar mereka tertolong dari jalan yang sesat.

Dakwah Islam secara bergantian dilakukan oleh para Khalifah dengan perjuangan yang berat dan keimanan yang kokoh. Islam disebarkan keseluruh penjuru mata angin. Ke timur sampai ke persia. Ke sebelah utara Dakwah Islam mencapai ke negri Syiria. Sedangkan ke bagian barat mencapai negri Mesir. Pada masa Khulafaur Rasyidin Dawah Islam bukan saja dengan jalan membebaskan wilayah dari kekuasaan orang-orang kafir tapi juga dengan jalan memberikan penerangan-penerangan melalui para Da’i dan Mubaligh.

Perkembangan Pendidikan

Pada masa Khalifah Abu Bakar diiringi dengan banyak pemberontakan-pemberontakan beberapa suku Arab terhadap Islam. Kejadian lain yang di alami Khalifah Abu Bakar adalah adanya nabi-nabi palsu. Para Da’i atau pendidik akhirnya diwajibkan “Bela Negara” untuk memberantas pemberontakan dan menginyapkan para Nabi palsu. Oleh karena itu kegiatan untuk mengembangkan pendidikan agak terganggu.

Pendidikan dikembangkan kemudian pada masa Khalifah Umar bin Khatthab. Beliau mengembangkan pendidikan dari tingkat SD (Kuttab) sampai dengan perguruan tinggi (Halaqah). Proses belajar mengajar dilakukan di masjid-masjid. Bentuknya tentu saja tidak seperti dewasa ini. Para mahasiswa duduk melingkar (Halaqah) di masjid. Materi perkuliahan pada awalnya adalah pelajaran tentang Al-Qur’an dan Hadits. Perkembangan berikutnya perkuliahan ditambah dengan ilmu-ilmu lainnya seperti tafsir, fiqih, ilmu kalam (keimanan), Bahasa Arab dan Sastra. Untuk pendidikan sekolah dasar penyelenggaraannya di kuttab-kuttab. Materi pendidikannya selain seperti disebutkan di atas masih ditambah lagi dengan pelajaran agama.

Sistem perkuliahan (Halaqah) bertempat di masjid sangat disenangi oleh kaummuslimin pada waktu itu. Pendidikan seperti ini, berkembang pula di kota-kota lain. Misalnya Basrah, Kuffah, dan Damaskus.

Pendidikan diperguruan tinngi ini terus berkembang. Apalagi Khalifah Umar bin Khatthablah yang sangat mendukung dan sangat memeperhatikan kegiatan halaqah ini. Khalifah Umar bin Khattab yang pertama kali mengangkat para syaikh (Dosen) untuk mengajar di Basrah, Kuffah, dan Damaskus.

Halaqah ini terus berkembang bahkan hampir pada setiap masjid. Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, beliau sangat memeperhatikan pula halaqah ini. Perkembangan pendidikan betul-betul dirasakan manfaatnya oleh umat Islam pada masa Khulafaur Rasyidin.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Sejalan dengan tumbuh dan berkembangnya halaqah-halaqah di masjid, maka ilmu pengetahuan pun ikut berkembang. Kaum muslimin yang pandai makin banyak. Dari sinilah muncul kaum cendikiawan di kalangan kaum muslimin.

Ilmu-ilmu yang berkembang tokoh-tokoh yang mengajarkan dan memperkenalkan, antara lain:

1. Al-Qur’an, hafalan dan bacaan Qira’at. Tokoh perintis dan yang mengembangkannya adalah Khabbab, Abdullah bin Mas’ud.

2. Ilmu tafsir, tokoh perintisnya antara lain: Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud,

3. Ilmu Fiqih, tokoh pengembngnya antara lain: Abdullah bin Mas’ud, Mu’adz, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin abbas, dan Abu Musa Al-Asy’ari.

4. Ilmu Hadist, tokoh pengembangnya antara lain: Siti Aisyah, Abu Hurairah, Abdullh bin Umar, Abdullah bin Abbas, dan Anas bin Malik

5. Ilmu Bahasa, tokoh pengembangnya antara lain: Zaid bin Tsabit.

Perkembangan Pemerintahan

Sistem pemerintahan masa Khulafaur Rasyidin pada dasarnya tidak banyak perubahan seperti pada masa Rasulullah. Cara pengembangan pemerintahan yang dicontohkan Rasullullah, antara lain:

1. Ukhuwah Islamiyyah, yaitu, membangun persaudaraan antar umat islam

2. Membuat peraturan perundang-undangan yang dijadikan sebagai alat pemersatu bagi masyarakat.

3. Mengembangkan cara musyawarah dalam menyelesaikan berbagai macam persoalan yang terjadi di masyrakat

4. Menjadikan Al-Qur’an dan Hadist sebagai jalan dalam menyelesaikan segala urusan.

5. Menjadikan masjid sebagai sentral atau pusat kegiatan ummat.

Pada masa khalifah Abu Bakar, cara pemerintahan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, hampir-hampit tidak ada perubahan, lain halnya pada masa pemerintahan Umar bin Khatthab. Pada masa beliau, kekuasaan islam sudah semakin luas. Persoalan-persoalan yang dihadapi masing-masing daerah ditaklukan berbeda-beda. Banyak pengalaman dan ilmu yang diperoleh di daerah yang ditaklukkan oleh khalifah Umar bin Khattab. Misalnya saja penaklukan Persia langkah-langkah sebagai berikut:

1. Membagi wilayah-wilayah taklukan yang luas menjadi beberapa provinsi.

2. Menyusun tata aturan dan tata-tertib pngaturan administrasi negara.

3. Dibuat beberapa jawatan-jawatan dalam mengatur pemerintahan. Jawatan-jawatan tersebut antara lain: jawatan POS, jawatan pengawasan timbangan, takaran, jawatan petahanan negara, Baitul Mal, dan sebagainya.

Perkembangan Perekonomian

Bangsa Arab terkenal dengan keuletannya dalam berdagang. Berdagang merupakan mata  pencarian utama bagi penduduk Arab. Sedangkan mata pencarian lain stelah berdagang, atau berniaga antara lain:

  1. Peternakan: misalnya unta, domba, kuda, dan lain-lain.
  2. Pertanian: misalnya, kurma, gandum, dan lain-lain.
  3. Transfortasi  dan sewa menyewa.

Pada masa Khulafaur Rasyidin ada beberapa tempat niaga yang penting, yaitu:

  1. Selatan: Negeri Yaman, yang biasa dilakukan pada musim dingin.
  2. Utara: Negeri Syam, yang biasa dilakukan pada musim panas.
  3. Timur: Bahrain dan Persia, dilakukan pada musim panas.

Sistem perniagaan pada masa Khlulafaur Rasyidin sudah teratur tertib.diantara orang-orang yang berjasa dalam mengatur lancarnya lalu lintas perdagangan antara lain: Hasyim bin Abdul Hanafiah, Abdul Syam, Abdul Muthalib, Abu Sofyan, dan Walid bin Mughirah.

            Khususnya pada masa kekhalifan Umar bin Khattab peraturan sistem perekonomian diatur dengan baik sekali, khalifah menata sistem perekonomian dengan memperhatikan semua bidang yang menyangkut kemajuan perdagangan. Penataan dan kemajuan sistem perekonomian yang terdapat pada saat itu, meliputi antara lain:

  1. Untuk barang dagangan berupa nabati (hasil bumi berupa atau berasal dari tumbuhan) dikenakan pengurangan bayar pajak sampai 50 persen.
  2. Banyak dibangun pasar-pasar bagi para pedagang.
  3. Mengembangkan sistem pekan dagang di pasar Ukaz, yang terletak di antara Nakhlan dan Thaif serta di antara Mijara’ah dan Majaz.
  4. Memperluas jalur hubungan perdagangan dengan negara-negara lain di dunia, baik islam, maupun bukan negara islam. Misalnya: Rusia, Cina, India, dan Afrika.
  5. Membuat mata uang sebagai mata uang resmi.
  6. Membuat peraturan perundangan tentang pengaturan hak penggunaan tanah penduduk.
  7. Mengembangkan sumber-sumber pendapatan negara dari sektor pajak. Misalnya, pajak hasil bumi (Kharaj), pajak perlindungan (Jizyah), pajak penjualan, dan rampasan perang (Ushr dan Ghanimah), dan lain-lain
  8. Mendirikan dan mengembangkan Baitul Mal (Perbendaharaan Ummat).

Perkembangan Pertahanan dan Perkembangan Umat Islam

Pada dasarnya sistem pertahanan dan keamanan pada masa khulafaur rasyidin mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah. Sistem pertahanan dan keamanan yang pada masa Rasulullah dipandang sangat baik untuk dipakai.

Hal ini mengingatkan cara-cara Rasulullah mempertahankan dan mengamankan sebuah negara terbukti berhasil dengan sangat baik.

Cara-cara tersebut antara lain:

1. Mengutamakan cara damai dalam menyelesaikan berbagai masalah. Perang hanya dipakai untuk mempertahankan diri serta mempertahankan kedaulatan ummat islam.

2. Seluruh kaum Muslim bertanggung jawab atas keamanan dan pertahanan negara.

3. Menggiatkan program uji kompetensi bel negara dan pengawasan atau patroli keamanan.

4. Mengembangkan properti atau perlengkapan dan peralatan perang melalui pendanaan dari masyarakat

5. Menggunakan teknik mendahului menyerang pada setiap kali pertempuran.

Kategori:Sejarah
  1. Oktober 9, 2012 pukul 4:16 am

    acieeee WP baruu😀

    • cerminkuratapanku
      Oktober 13, 2012 pukul 5:06 am

      wooow sssstttt jempe newbie niih, masih belajar haha😀

  2. Oktober 13, 2012 pukul 5:33 pm

    hahaha gpp lah😀
    welcome in the world blog😀
    selamat yaa jadi blogger sekarang🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: