Beranda > Bahasa Indonesia > PENGEMBANGAN DAN PENYUSUNAN PARAGRAF

PENGEMBANGAN DAN PENYUSUNAN PARAGRAF

A. Pengembangan Paragraf

        Beberapa pola pengembangan:

(1)   hal-hal khusus (umum-khusus/khusus-umum)

(2)  alasan-alasan (sebab-akibat)

(3)  perbandingan

(4)  contoh-contoh

(5)   definisi luas

Contoh (1): Pengembangan dengan hal-hal khusus

Contoh   a:

        Semua isi alam ini ciptaan Tuhan. Ciptaan Tuhan yang paling berkuasa di dunia ini ialah manusia. Manusia diizinkan oleh Tuhan memanfaatkan isi alam ini dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi, tidak diizinkan menyiksa, mengabaikan, dan menyia-nyiakannya.

Contoh  b:

        Sudah beberapa kali Pancasila dirongrong bahkan hendak diubah dan dipereteli. Namun, setiap usaha yang hendak merongrong, mengubah, dan memereteli itu ternyata gagal. Betapa pun usaha itu dipersiapkan dengan cara yang teliti dan matang, semuanya dapat dihancurleburkan. Bukti yang lalu meyakinkan kita bahwa Pancasila memang benar-benar sakti, takdapat diubah dan dipereteli.

Contoh (2): Pengembangan dengan Alasan.

Contoh a:

        Keluarga berencana berusaha menjamin kebahagiaan hidup keluarga. Ibu tidak selalu hidup merana karena setiap tahun melahirkan. Bapak tidak pula terlalu pusing memikirkan usaha untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Anak pun tidak telantar hidupnya.

Contoh  b:

        Krisis minyak bumi menambah parah inflasi. Dalam waktu singkat harga minyak naik empat kali lipat. Ongkos produksi pun naik karena pabrik banyak menggunakan minyak bumi. Tentu saja harga barang-barang pun menjadi makin tinggi.

Catatan: Peristiwa I – Peristiwa II – Peristiwa III – Prtistiwa IV

Contoh c:

        Dia terpaksa tidak masuk sekolah hari ini. Sudah beberapa hari ibunya sakit. Ayahnya yang dinanti-nantikan kedatangannya dari Jakarta belum tiba. Adik-adiknya yang masih kecil tidak ada yang menjaganya.

Contoh (3): Pengembangan dengan perbandingan

        Dalam kesusatraan Indonesia kita mengenal cipta sastra yang disebut pantun dan syair. Kedua cipta sastra itu berbentuk puisi dan tergolong hasil sastra lama. Kedua puisi lama itu jumlah baris-barisnya sama. Baik pantun maupun syair seperti bentuk aslinya tidak kita jumpai pada cipta sastra masa kini. Kalau pun ada, biasanya hanya dalam nyanyian.

Contoh (4): Pengembangan dengan contoh

        Kata-kata pungutan itu ada yang telah lama masuk, ada juga yang baru masuk. Baik yang telah lama maupun yang baru, ada yang benar-benar sudah menjadi warga bahasa Indonesia, misalnya saya, baru, lemari, dan kursi. Ada juga yang masih terasa asing, misalnya akhlak, insaf, distribusi, konsumsi, sukses, proses, dan komunikasi.

Contoh (5): Pengembangan dengan definisi luas

        Apa dan siapakah pahlawan itu? Pahlawan adalah orang yang berpahala. Mereka yang berbuat baik, melaksanakan kewajiban dengan baik, dan berjuang tanpa pamrih adalah pahlawan.Pahlawan tidak menuntut balas jasa, tidak ingin dihargai, dan tidak meminta pengakuan dari orang lain. Mereka berbuat berdasarkan idealisme, cita-cita luhur, berjuang untuk kepentingan umum, membela nusa, bangsa, dan negara. Pahlawan sejati adalah pahlawan yang tidak menonjol-nonjolkan diri, tidak ingin disanjung dan dijunjung. Pahlawan itu berjuang dengan ikhlas;  rela berkorban tanpa pamrih.

B. Penyusunan Paragraf

  • Syarat Paragraf yang Baik:
    1. kesatuan
    2. kepaduan
    3.  pengembangan
  •  Pengurutan Kalimat Utama-Kalimat Penjelas:
    1. urutan logis
    2. urutan kronologis
    3. urutan lokal
    4. urutan klimaks dan antiklimaks
    5. urutan kausal

A.  Urutan Logis:

Urutan logis ialah urutan yang menyebutkan hal-hal yang yang umum terlebih dahulu diikuti dengan hal-hal yang khusus, atau sebaliknya. Contoh:

Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dan paling berkuasa di bumi atau di dunia. Dikatakan demikian sebab dia diizinkan Tuhan memanfaatkan semua isi alam ini untuk keperluan hidupnya. Akan tetapi, tidak diizinkan menyakiti, menyiksa, atau menyia-nyiakannya.

Catatan: Urutan logis merupakan penunjang koherensi yang paling utama dan efektif.

B. Urutan Kronologis

Urutan kronologis ialah urutan kejadian menurut waktu. Urutan ini ada dua macam, yakni kronologis objektif (kejadian di luar penulis) dan subjektif (kejadian yang dialami penulis). Contoh:

Tepat pukul 07.30 upacara peringatan Hari Kemerdekaan dimulai. Bendera Merah Putih dikibarkan diiringi lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Kemudian mengheningkan cipta untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur. Dua mahasiswa tampil untuk membacakan teks Proklamasi dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Sesudah itu, rektor memberikan pidato sambutan tentang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Kira-kira pukul 10.00 upacara diakhiri dengan pembacaan doa.

C. Urutan Lokal:

Urutan lokal ialah urutan mengenai tempat kejadian atau sesuatu.

Alun-alun itu disebut “Alun-alun Bunder” sebab bentuknya memang bundar. Di alun-alun itu dibuat kolam bundar juga yang ditumbuhi oleh bunga-bunga teratai dan dilepaskan ikan-ikan kecil. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah tugu terbuat dari batu. Bunga-bungaan, tanaman-tanaman perdu dan rerumputan tumbuh di sekeliling kolam itu. Alun-alun yang cukup luas berpagar besi melingkar itu terletak di muka Balai Kota Madya Malang.

D. Contoh Urutan Klimaks dan Antiklimaks

1)  Pancasila telah beberapa kali dirongrong. Beberapa kali falsafah Negara RI hendak diubah atau dipereteli. Setiap usaha hendak mengubah dan memereteli Pancasila, ternyata gagal. Betapapun usaha itu telah dipersiapkan dengan matang dan teliti, semuanya tetap dapat dihancurkan. Memang, Pancasila benar-benar sakti.

2)  Kebahagiaan tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya uang yang dimiliki oleh seseorang. Uang memang penting, tetapi kebahagiaan seseorang tidak bergantung kepada uang yang dimilikinya. Jika kebahagiaan memang bergantung kepada uang semata-mata, pastilah hanya orang-orang yang kaya yang dapat menikmati kebahagiaan. Kenyataan tidak demikian. Banyak orang yang kaya harta, tetapi tidak berbahagia. Sebaliknya, banyak orang yang miskin harta, tetapi berbahagia hidupnya.

 E. Urutan kausal lihat pengembangan paragraf dengan alasan di atas!

KOHERENSI DALAM PARAGRAF

Koherensi ialah kepaduan/kekompakan hubungan antara kalimat satu dan kalimat lain dalam sebuah paragraf. Paragraf yang koheren menunjukkan bahwa kalimat-kalimat pembentuknya berkaitan secara padu. Kepaduan dapat memudahkan pembaca mengikuti dan memahami jalan pikiran penulisnya.

Kepaduan paragraf dapat dipelihara dengan penanda hubungan, baik secara eksplisit maupun implisit.

A. Penanda Koherensi Eksplisit:

  1. Pengulangan kata/frase kunci
  2. Kata ganti
  3. Kata/frase transisi

1)  Pengulangan kata/frase kunci:

  1. Kata/frase utuh: manusia dengan manusia; kesadaran moral dengan kesadaran moral
  2. Sinonim kata/frase: menyepakati dengan menyetujui; diberi kesempatan dengan mendapat kesempatan
  3. Antonim kata/frase: memelihara X mengubah; pernah melanggar X selalu menaati
  4. Pengulangan bentuk dasar yang sama dengan bentuk kata yang berbeda: memelihara dengan pemeliharaan; mengembangkan dengan pengembangan

Contoh:

Ketika Saudara naik kapal terbang, pramugari menghidangkan gula-gula. Sebenarnya, itu ada maksudnya yaitu supaya selama berlepas landas dan mendarat, Saudara selalu mengunyah-ngunyah. Dengan cara demikian, hubungan antara rongga hidung dan telinga selalu terbuka. Bila hubungan itu macet, misalnya jika sedang pilek, pada waktu pesawat lepas landas dan terutama waktu mendarat, telinga Saudara akan nyeri sekali. Akibatnya, selaput gendang telinga dapat pecah dan keluar darah dari telinga atau dapat terjadi radang dalam rongga telinga.

2)  Kata Ganti

Kata ganti dapat bertugas menunjukkan kepaduan suatu paragraf: kata ganti orang, kata ganti milik, dan kata ganti tunjuk.

Contoh-1:

Pembaca selalu ingin dapat membaca dengan tenang, bebas, dan leluasa. Ia ingin berdikari, berpikir sendiri, menimbang-nimbang sendiri, menyimpulkan sendiri, dan menilai sendiri. Segala macam nasihat dan anjuran dalam karangan yang diakhiri dengan pidato, amanat, dan sebagainya akan disambutnya dengan rasa tenang. Ia akan merasa senang jika diperlakukan sebagai lawan bicara yang telah dewasa. Ia tidak mau lagi dianakkemarinkan.

Contoh-2:

Lihat contoh pada butir (1)

3)  Kata/Frase Transisi (kata sambung)-konjungsi antar kalimat

1. Hubungan tambahan: lagi, apalagi, juga/pula, selanjutnya, selain itu, berikutnya

2. Hubungan perbandingan: sama halnya, berbeda halnya, seperti halnya, sebagaimana, lebih jauh

3. Hubungan pertentangan: akan tetapi, melainkan, sebaliknya, namun, walaupun demikian

4. Hubungan akibat atau hasil: akibatnya, jadi, maka, oleh sebab itu

5. Hubungan waktu: sebelum itu, sejak itu, kemudian, beberapa saat kemudian, sesudah itu, sementara itu

6. Hubungan tujuan: untuk itu, untuk maksud/tujuan tersebut

7. Hubungan contoh: misalnya, contohnya

8. Hubungan ringkasan: singkat kata, pendek kata, pada umumnya, itulah, begitulah, demikianlah, simpulannya

9. Hubungan urutan: pertama, kedua, ketiga, akhirnya, yang terakhir

Contoh :

a)   Deterjen tidak hanya dipakai oleh industri kecil, tetapi jauh lebih luas lagi karena dianggap cocok untuk mencuci pakaian halus seperti sutera. Bahkan perabot dapur yang dicuci dengan sabun bubuk ini warnanya tidak segera pudar. Betapa efektifnya hasil baru ini dibuktikan oleh kesanggupannya berbuih, sekalipun digunakan air laut untuk mencuci. Apalagi bagi negara yang sama sekali tidak memiliki sumber minyak nabati sebagai bahan baku sabun cuci, deterjen dapat menggantikan peranan sabun cuci biasa.

b)  Khusus mengenai buku-buku terdapat beberapa masalah. Pertama, jumlah dan jenis buku yang diperlukan oleh guru dan murid belum memadai. Kedua, perpustakaan sekolah yang bertugas membina buku-buku dan media bacaan lainnya belum berkembang sebagaimana mestinya. Ketiga, buku-buku pelajaran masih banyak yang belum memenuhi syarat, baik mengenai bahasa, isi, maupun ejaannya.

c)   Tenaga kerja di Jawa, Bali, Madura, dan Lombok berlebihan, sedangkan di pulau-pulau lain hanya sedikit yang dapat dimanfaatkan. Akibatnya, pembangunan belum dapat dilakukan secara merata. Oleh karena itu, sebagian penduduk dari keempat daerah itu dipindahkan ke pulau-pulau yang lain.

CATATAN:

  • Kata atau frase transisi harus dipakai semestinya, digunakan bila benar-benar diperlukan. Hindari penggunaan kata atau frase transisi secara mubazir. Perhatikan!

Pukul 07.00 tepat bel berbunyi. Maka upacara memperingati Proklamasi Kemerdekaan dimulai. Sesudah barisan disiapkan, lalu dua orang siswa menaikkan bendera Sang Merah Putih. Sesudah itu, lalu mengheningkan cipta. Kemudian, dilanjutkan dengan pembacaan Teks Proklamasi, Pancasila, dan Pembukaan UUD 1945. Sesudah itu, lalu Kepala Sekolah memberikan sambutannya. Sesudah sambutan dari Kepala Sekolah, maka upacara selesai pukul 09.30.

  • Kata atau ungkapan transisi selalu terdapat pada awal kalimat dalam satu paragraf, tidak boleh berganti baris. Perhatikan!

Kita hidup di kota besar yang ramai lalu lintasnya. Berbagai macam kendaraan hilir mudik setiap saat. Bila kita tidak berhati-hati dan tidak mengindahkan tata tertib lalu lintas, bahaya mengancam kita. Karena itu, tata tertib lalu lintas harus kita patuhi.

  • Kata atau frase transisi yang menyatakan ringkasan atau simpulan selalu terdapat pada kalimat akhir sebuah paragraf. Perhatikan!

Pemerintah mendirikan sekolah-sekolah sampai ke pelosok desa. Lapangan kerja yang baru pun dibuka. Pembangunan rumah-rumah ibadah dibantu. Memang, pemerintah terus berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyat.

  • Kelancaran hubungan kalimat yang satu dengan yang lain dapat juga terpelihara dengan cara menyejajarkan ide-ide yang sama fungsinya ke dalam konstruksi gramatikal yang sama. Perhatikan!

Pemerataan kesempatan belajar sampai ke desa-desa dan pembangunan pemuda di pedesaan dipercepat dengan program KKN bagi para mahasiswa calon sarjana. Sementara itu, pembinaan dan pengembangan pemuda di pedesaan terus digiatkan.

  • Di samping kesejajaran, perlu diperhatikan pula keajekan pemakaian kata ganti diri. Perhatikan!

Dalam mengarang kita selalu berurusan dengan bahasa. Hanya bahasalah satu-satunya alat yang tepat untuk mengarang. Di sekolah tentulah kita telah diberi modal pengetahuan bahasa. Bahkan, kita telah dilatih menggunakannya dalam karang-mengarang. Modal yang sangat berharga itu harus kita kembangkan lebih lanjut dalam kehidupan bahasa yang sungguh-sungguh, yaitu dalam masyarakat.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: